Sunday, May 11, 2008

Riwayat Singkat Seni Beladiri Pernafasan dan Meditasi Pencak Gerak “TRISULA” (10 Jurus Pernafasan)

Author : R Lyliek HP

Pada era sebelum kemerdekaan di Indonesia, ada 4 pendekar silat yaitu:
1. Madi.
2. Mbah Kari.
3. Mbah Syahbandar.
4. Mbah Khair (cikal bakal Cimande)

Mereka menggabungkan ilmu yang mereka miliki menjadi 10 jurus tata pernafasan
Ilmu tersebut diturunkan kepada sebagai berikut:
1. Ki Among Rogo, di lereng gunung slamet Jawa Tengah mendirikan PS “SETYA”
2. Mbah Nampon terkenal dengan Aji nampon (SANALIKA) di Indramayu Jawa Barat.
3. Abah Anda Dinata di Cicalengka mendirikan GBP”Margaluyu
4.
H. Hamim di Bandung

Ki Among Rogo yang berdiam di lereng gunung slamet adalah merupakan guru dari penulis (R. Lylliek HP dengan gelar Djarot). Penulis menuntut ilmu kanuragan di lereng gunung slamet dengan bimbingan Ki Among Rogo, dari pencak silat sampai mendapatkan ilmu “10 jurus tata pernafasan”

Selanjutnya penulis di tempat asalnya Purwokerto (Sawangan Gang 2) selanjutnya mendirikan PS “GMC” (Goro Masilsa Congga) kepanjangan dari “Gotongroyong Masyarakat Silat Sawangan Complek Gabungan” pada tahun 1960.
Pada tahun 1966 Ki Among Rogo wafat di
kota asalnya Pekalongan Jawa Tengah.

Salah seorang murid Mbah Nampon adalah Bun Haw /Budi Harja (alm) sesepuh perguruan PGB Bangau Putih yang pusatnya di Bogor Jawa Barat, bersama penulis melanjutkan menuntut ilmu kanuragan ke Cicalengka di perguruan GBP “Margaluyu” dengan bimbingan langsung dari Abah Anda Dinata.
Penulis dan Bun Haw mendapatkan kembali 10 jurus tata pernafasan dengan langkah yang sama hanya gerakan tangan dan kaki yang lebih luwes karena mengacu pada gerakan silat Jawa Baratan sampai mencapai tingkatan “Jurus Payung” atau “Payung Rosul” pada tahun 1967.

Pada tanggal 30 January 1969 Abah Anda Dinata wafat, selanjutnya perguruan Gerak Badan Pencak “Margaluyu” diteruskan oleh anak-anaknya.

Pada tahun 1981 penulis mendirikan seni bela diri “GMC” (Gadung Melati Club) di Jakarta. Tahun 1997 Ibu Titiek putrid Almarhum Abah Anda Dinata memberi mandat kepada R. Lyliek HP, untuk menyebar luaskan ajaran dari Cicalengka/Dusun Cikuya khususnya 10 jurus Pernafasan dan Jurus Payung.

Pada tanggal 25 Juli 1993 penulis bersama Drs. Dadang Suhendar dan putra tertua penulis yaitu Djarot Agung Amd mendirikan PPST “SINGAJAYA” (Silat Ngagem Jalan Setya) yang menjadi kegiatan ekskul di SMP N 24 Jakarta Timur.

Pada tanggal 31 Juli 2002 penulis kembali mendirikan Pencak Gerak “TRISULA” yang program kegiatannya berbeda , yaitu sangat bermanfaat bagi kesehatan dan rohani kita semua.

Demikianlah sekilas riwayat singkat tentang berdirinya Pencak Gerak “TRISULA”

Jakarta 31 Juli 2002

(R. Lyliek Heri Prasisto)

Penulis


Jl.Dukuh VI RT003 RW05 No.15
Telp. (021) 8402427



Mbah Khair (Pencipta Silat Cimande)

Khair tinggal di kampung Cogreg, Bogor menjadi pendekar yang disegani kira-kira pada tahun 1760 pertama kali memperkenalkan kepada murid-muridnya jurus mempo' Cimande. Kemudian murid-muridnya menyebarkan luaskan kedaerah lainnya seperti Batavia, Bekasi, Karawang, Cikampek, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, Kuningan, dan Cirebon.
Sewaktu beliau tinggal di Cogreg Bogor, Kahir sering bepergian jauh meninggalkan kampung halamannya untuk berdagang kuda. Pengalamannya sering di begal oleh rampok dan bandit namun keadaan itu dapat diatasi karena kepiawaiannya bermain maempo'.

Di Batavia berkesempatan berkenalan dengan pendekar-pendekar silat Minangkabau dan Cina yang ahli dalam dunia persilatan untuk saling mencoba dengan bertukar pengalaman. Pertemuan dengan ahli silat lain ini memberikan cakrawala untuk membuka wawasan pandangan tentang permainan yang dimilikinya berinteraksi dengan budaya lain.
Ketika berdagang di Cianjur, beliau bertemu dengan Bupati Cianjur ke VI yakni Raden Adipati Wiratanudatar(1776-1813) Beliau menetapkan pindah ke Cianjur dan berdomisili di kampung Kamurang. Raden Adipati Wiratanudatar mengetahui bahwasanya Khair mahir bermain mempo' untuk itu memintanya untuk mengajar keluarganya, pegawai kabupaten dan petugas keamanan.
Untuk membuktikan ketrampilannya, bupati mengadakan adu tanding melawan pendekar dari Cina dengan permainan kuntao Macao di alun-alun Cianjur. Pertandingan yang dimenangkan oleh Kahir ini membuat namanya semakin populer di Kabupaten Cianjur.

Pada tahun 1815 Khair kembali ke Bogor, beliau memiliki 5 putra yaitu Endut, Ocod, Otang, Komar dan Oyot. Dari kelima anak inilah Cimande disebarkan keseluruh Tanah Pasundan. Sementara di Bogor yang meneruskan penyebaran Cimande adalah muridnya yang bernama Ace yang meninggal di Tarikolot yang hingga kini keturunannya menjadi sesepuh pencaksilat Cimande Tarikolot Kebon Jeruk Hilir.
Pada permulaan abad XIX di Jawa Barat adalah masa-masa kejayaan Cimande sehingga cara berpakaian Kahir dengan menggunakan pakaian celana sontok atau pangsi dengan baju kampret menjadi model pakaian pencak silat hingga kini.

Pada tahun 1825 Khair meninggal dunia sedangkan buah karyanya terus berkembang dan diterima secara luas oleh masyarakat Jawa Barat. Pola pendidikannya dikembangkan oleh anak didiknya seperti Sera' dan aliran Ciwaringin yang dalam perkembangannya mengadakan perubahan jurus seperti yang dilakukan Haji Abdul Rosid. Akan tetapi berubahan itu tidak jauh berubah dari pakem mempo'Cimande .
Dewasa ini Cimande sudah berkembang ke seluruh pelosok dunia, masalahnya Kahir meninggalkan maempo Cimande tidak berupa catatan tertulis , oral tradisi yang tidak sistimatis. Di desa Cimande, maempo' Cimande tidak berada di dalam tatanan yang terpadu seperti organisasi.

Maempo Cimande perkembang bermula dari keturunan dan keluarga yang tidak terorganisir dalam waktu yang panjang telah menghasilkan murid-murid yang banyak dan dari senilah berkembang dengan seizin atau tidak menjadi perguruan-perguruan Cimande yang baru yang satu dengan yang lain tidak saling mengenal lagi.
Setidak tidaknya Cimande menjadi bagian dasar pendidikan aliran-aliran pencak silat baru yang sudah banyak tersebar diseluruh dunia.